headerphoto

DOSA - PELAJARAN ALKITAB

Rabu, 11 Maret 2009 08:35:10 - oleh : admin

DOSA

 

Dosa dapat digambarkan sebagai sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya dan meleset dari target yang ditentukan. Tentu saja bukan berarti tidak kena target ini merupakan hal yang berkaitan dengan hukum moral. Tetapi definisi sederhana dari dosa di Alkitab adalah "meleset dari sasaran". Di dalam istilah Alkitab, sasaran yang tidak dikenai itu bukan merupakan sasaran yang penuh lalang; sasaran itu merupakan tanda atau "norma" dari hukum Allah. Hukum Allah menyatakan kebenaran-Nya dan merupakan standar tertinggi bagi perilaku kita. Pada waktu kita tidak mencapai standar yang telah ditentukan ini, maka kita berdosa.

Alkitab berbicara tentang universitalitas dosa dalam pengertian meleset dari tanda kemuiaan Allah. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Pernyataan bahwa "tidak ada yang sempurna" atau "berbuat salah itu manusiawi", menyatakan kita mengakui akan universitalitas dosa. Kita semua orang berdosa yang membutuhkan penebusan.

Dosa telah didefinisikan sebagai "pelanggaran terhadap hukum Allah yang diberikan kepada makhluk yang berakal budi". Definisi ini memiliki tiga dimensi yang penting. Pertama, dosa merupakan ketidakmauan untuk menaati, yaitu ketidaktaatan terhadap Hukum Allah. Dosa ini adalah dosa tidak melakukan yang diperintahkan Allah. Contohnya, apabila Allah memerintahkan kita untuk mengasihi sesama, dan kita tidak melakukannya, maka kita berdosa.

Kedua, dosa didefinisikan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah. Pelanggaran terhadap hukum berarti melanggar batas yang telah ditentukan. Jadi, dosa kadang-kadang dijelaskan sebagai memasuki wilayah yang dilarang untuk dimasuki. Dosa ini disebut dosa dimana kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Contohnya, apabila Allah melarang kita, dengan pernyataan "Kamu jangan melakukan," dan kita melakukan apa yang dilarang, maka kita berdosa.

Ketiga, dosa merupakan tindakan yang dilakukan oleh makhluk yang berakal budi. Sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah, kita merupakan pribadi yang memiliki kebebasan moral. Kita memiliki akal budi dan kehendak, maka kita mampu untuk bertindak secara moral. Pada waktu kita melakukan sesuatu yang kita tahu salah, maka kita memilih untuk tidak menaati hukum Allah dan berdosa.

Semua dosa melawan Allah adalah dosa yang serius dan membawa maut, tetapi tidak ada dosa yang dapat menghancurkan pembenaran oleh iman. Dosa sekecil apapun merupakan tindakan pemberontakan melawan Allah. Setiap dosa merupakan tindakan pengkhianatan yaitu suatu usaha yang sia-sia untuk menurunkan Allah dari singgasana-Nya dengan otoritas kedaulatan-Nya.

Namun Alkitab tetap melihat ada beberapa dosa yang lebih jahat dari dosa yang lain. Ada derajat dalam kefasikan, sehingga ada derajat di dalam penghukuman sesuai dengan keadilan Allah. Yesus mengecam orang Farisi oleh karena mengabaikan hukum yang lebih utama dan memperingatkan kota-kota di Betlehem dan Korazim bahwa dosa mereka lebih buruk dari Sodom dan Gomora (Matius 11:20-24)

Alkitab juga memperingatkan kita tentang kesalahan dari berbagai macam dosa. Meskipun Yakobus mengajar bahwa pelanggaran-pelanggaran terhadap satu hukum Allah merupakan pelanggaran terhadap semua hukum (Yakobus 2:10), namun kesalahan itu bertambah pada setiap dosa yang dilakukan. Paulus menegur kita supaya jangan menambah murka Allah pada hari murka Allah akan dinyatakan (Roma 2:1-11). Setiap dosa yang kita lakukan telah menambah kesalahan kita dan patut dimurkai oleh Allah. Namun anugerah Allah lebih besar dari semua kesalahan kita.

Alkitab menghadapi dosa dengan serius, oleh karena Alkitab juga menghadapi Allah secara serius, dan menghadapi manusia secara serius. Pada waktu kita berdosa kepada Allah, kita melanggar kekudusuan. Pada waktu kita berdosa kepada sesama kita, kita melanggar kemanusiaannya.


SUMBER DOSA

Alkitab Menyatakan:

1.      Manusia diciptakan dengan kemungkinan berdosa karena manusia diberikan kehendak bebas yaitu untuk memilih taat kepada Allah atau melawan kehendak Allah. Dan kebebasan itu harus dipergunakan dengan tanggung jawab.

2.      Pohon pengetahuan tentang baik dan jahat diberikan sebagai ujian ketaatan agar manusia dengan rela dan atas kehendaknya sendiri memilih Allah dan menolak Iblis.

3.      Tuhan mengijinkan manusia digoda setan.

4.      Manusia yang suci itu tergoda oleh iblis dan kemudian ia mengambil serta memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Itulah kejatuhan manusia terjadi karena manusia lebih percaya kepada iblis daripada kepada Allah sehingga ia tidak taat kepada Allah.

Jadi dosa tidak berasal dari Allah. Allah tidak menciptakan dosa. Bahkan Allah tidak menciptakan suatu kejahatan. Dalam Kitab Kejadian dinyatakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi "Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu sungguh amat baik" (Kejadian 1:31). Perkataan sungguh amat baik dalam ayat tersebut mempunyai arti bahwa semua ciptaan itu telah diciptakan sesuai dengan maksud dan rencana Allah. Tidak meleset sedikitpun dan tanpa cacat atau cela.


DOSA ASAL

Kita sering kali mendengar orang mengatakan bahwa "manusia pada dasarnya baik". Meskipun kita mengakui bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kejahatan manusia telah diremehkan. Apabila manusia pada dasarnya adalah baik, lalu mengapa dosa bersifat universal?

Orang sering kali menganggap semua orang berdosa oleh karena pengaruh negatif dari masyarakat di sekitarnya. Orang melihat masalahnya terletak pada lingkungan bukan pada natur kita. Penjelasan tentang universalitas dosa membuat kita bertanya, bagaimana asal mula masyarakat dapat tercemar. Apabila manusia lahir tanpa salah, maka kita berharap pada, paling tidak sebagian dari mereka meskipun minoritas tetap dalam keadaan baik. Dengan kata lain, seharusnya kita menemukan masyarakat yang tidak tercemar, yaitu suatu lingkungan yang tanpa dosa. Namun pada kenyataannnya, disuatu masyarakat yang paling bersihpun, kita tetap dapat melihat bahwa masyarakat tersebut tidak terlepas dari kesalahan oleh karena dosa mereka.

Oleh karena buah yang dihasilkan adalah dosa, maka kita tentu melihat pada kondisi dari pohonnya. Yesus menyatakan bahwa pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang buruk. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa nenek moyang kita, yaitu Adam dan Hawa, telah jatuh ke dalam dosa. Sebagai akibatnya, setiap manusia telah lahir dengan natur dosa dan tercemar. Apabila Alkitab tidak secara eksplisit menjelaskan tentang hal ini, kita harus menarik kesimpulan secara rasional dari fakta bahwa dosa itu bersifat universal.

Namun pada faktanya, masalah dosa ini bukan merupakan hal yang disimpulkan secara rasional dari fakta keuniversalan dosa, tetapi merupakan penyataan ilahi. Hal ini disebut sebagai dosa asal. Dosa asal tidak hanya menunjuk pada dosa yang pertama kali dibuat oleh Adam dan Hawa, tetapi menunjuk pada akibat dari dosa yang pertama terhadap seluruh umat manusia, yaitu kerusakan dan ketercemaran umat manusia. Dengan kata lain, dosa asal menunjuk pada kondisi manusia yang sudah jatuh dalam dosa sejak manusia itu dilahirkan ke dalam dunia ini.


DOSA PERBUATAN

Dosa perbuatan adalah dosa yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Tentu hal tersebut disebabkan oleh dosa asal yang mendatangkan kelemahan, sehingga tidak dapaat berbuat baik dan cenderung berbuat jahat.

a.       Dosa dibedakan menjadi dosa pikiran, dosa perkataan dan dosa perbuatan. Namun dosa tersebut merupakan dosa manusia seutuhnya. Jadi dosa tidak dibedakan berdasarkan besar kecilnya atau berat ringannya pelanggaran karena dosa tetap dosa.

b.      Alkitab juga menyatakan peringatan tentang dosa terhadap Roh Kudus. Dalam Matius 12:24-32; Ketika Yesus menyembuhkan seorang yang buta dan bisu karena kerasukan setan lalu Yesus dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul atau penghulu setan.


Kemudian Yesus menyampaikan peringatan tentang dosa penghujatan terhadap Roh Kudus bahwa "apabila seorang megucapkan sesuatu menentang Anak Manusia ia akan diampuni tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni."


DOSA YANG TIDAK DAPAT DIAMPUNI

Penjelasan Alkitab berkenaan dengan adanya suatu dosa yang tidak dapat diampuni, telah menimbulkan keresahan di hati orang-orang yang berpikir mereka mungkin telah melakukan dosa itu. Meskipun Injil menawarkan pengampunan yang berdasarkan kasih karunia bagi mereka yanag bertobat dari dosa-dosanya, tetapi rupanya ada batasan untuk kejahatan yang satu ini. Dosa yang tidak dapat diampuni, yang diperingatkan Yesus berkenaan dengan penghujatan terhadap Roh Kudus. Yesus menyatakan bahwa dosa semacam ini tidak dapat diampuni baik pada masa ini, maupun pada masa yang akan datang.

Berbagai macam usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi kejahatan khusus yang bagaimanakah, yang tidak dapat diampuni ini. Ada yang mengatakan bahwa dosa itu adalah dosa pembunuhan atau perzinahan. Namun meskipun dosa-dosa itu adalah dosa yang sangat keji pada pandangan Allah, Firman Tuhan tetap menyatakan secara jelas, bahwa dosa-dosa itu dapat diampuni apabila pertobatan yang tulus dilakukan. Daud dapat diambil sebagai contoh, dia bersalah atas kedua macam dosa di atas, dan dia telah dipulihkan kembali berdasarkan anugerah.

Penghujatan dapat dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Dengan kata lain, penghujatan selalu melibatkan kata-kata. Meskipun segala bentuk penghujatan merupakan serangan yang serius terhadap karakter Allah, tetapi biasanya dapat diampuni. Pada waktu Yesus memperingatkan tentang dosa yang tidak dapat diampuni, konteksnya adalah orang-orang menuduh Yesus bekerjasama dengan setan . Peringatan-Nya merupakan peringatan yang serius dan sangat menakutkan. Tetapi pada kenyataannya Yesus di atas kayu salib berdosa mohon pengampunan untuk orang-orang yang telah menghujat-Nya atas dasar ketidaktahuan mereka: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereaka tidak tahu apa yang mereka perbuat"(Lukas 23:34).

Pada dasarnya seseorang telah diterangi oleh Roh Kudus sampai tahap dia dapat mengetahui Yesus sebagai benar-benar Kristus, dan kemudian orang itu menuduh Kristus berasal dari setan, maka orang itu telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni. Apabila orang Kristen mengandalkan kekuatannya sendiri, maka ia dapat melakukan dosa yang tidak dapat diampuni itu. Tetapi kita yakin bahwa Allah dengan pemeliharaan yang berdasarkan kasih karunia-Nya tetap akan menjaga orang-orang kudus untuk tidak jatuh pada dosa semacam ini. Orang Kristen yang tulus dan merasa takut telah melakukan dosa yang semacam ini, menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak melakukan dosa semacam itu. Orang yang melakukan dosa yang tidak dapat diampuni, hatinya sangat keras dan tetap tinggal dalam dosa mereka dan tidak merasa bersalah pada waktu melakukan.

Sebenarnya, di dalam kebudayaan dimana orang-orang tidaka mau mengakui kedaulatan Allah di dalam hidup, orang-orang tetap enggan untuk terlalu jauh atau keterlaluan pada waktu mereka menghujat Allah dan Kristus. Meskipun nama Kristus telah dipakai seenaknya dan Injil dilecehkan dengan humor-humnor dan komentar-komentar yang tidak pantas, orang-orang tetap tidak berani untuk mengaitkan Yesus dengan Setan. Pada kasus seseorang menghujat Roh Kudus oleh karena ketidaktahuannya dan dia belum diterangi oleh Roh Kudus, maka dosa itu masih tetap dapat diampuni.


AKIBAT DOSA

Dosa memiliki akibat yang sangat luas dan mengerikan. Kasih Allah setara dengan keadilan-Nya. Allah yang adil harus menghukum dosa, namun kasih Allah yang mahasuci tidak mungkin bersama-sama dengan yang najis. Ia membenci dosa tetapi mengasihi orang-orang berdosa. Dengan menghukum Adam, Allah menggenapi firmna-Nya. (Kejadian 2:17)

Jika Allah menghukum, hal itu mempunyai 2 arti. Hukuman Allah bagi orang berdosa berarti ganjaran bagi perbuatan jahat. Sedangkan bagi orang percaya, hukuman Allah merupakan disiplin atau hajaran yang memurnikan orang yang bergaul dengan Allah.


Hukuman terhadap dosa meliputi:

1.   Maut atau kematian

Alkitab menyatakan bahwa upah dosa ialah maut. (Roma 6:23). Maut artinya perceraian antara apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan. Maut atau kematian terdiri dari:


a)      Perceraian roh dan tubuh (mati jasmani)

Kematian Adam secara jasmani setelah ia makan buah pengetahuan yang baik dan jahat tidak terjadi pada hari itu juga. Tetapi kematian jasmani pasti akan dialaminya kemudian.

b)      Perceraian antara Allah dengan manusia (mati rohani). Namun demikian jika orang berdosa bertobat dan kembali kepada Allah, hubungannya dapat dipulihkan sehingga ia tidak mengalami kematian rohani.


c)      Perceraian kekal antara Allah dengan manusia (kematian kedua atau kematian kekal, Wahyu 21:8). Hal ini akan terjadi kepada orang berdosa yang tidak mau bertobat dan kembali kepada Allah sehingga akibatnya ia akan mengalami kematian kekal.


2.   Hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak.

            Sebelum berdosa, hidup manusia enak di taman Eden. Setelah berdosa ia diusir dari taman itu, tersingkir dari hadirat Tuhan, harus bekerja keras dan mengalami banyak kesulitan. Rusaknya hubungan dengan Allah membawa dampak bagi yang lain. Bahwa hubungan dengan sesama manusia dan dengan lingkungan sekitarnya juga menjadi tidak harmonis.


BERTOBAT DAN AKIBATNYA

Bertobat berarti berhenti berbuat dosa dan kemudian berpaling kepada Allah. Setelah seseorang menyadari bahwa ia orang berdosa, maka ia harus berhenti melakukan dosa tetapi kemudian ia harus berpaling kepada Allah, melangkah dan berjalan menuju Allah dengan jalan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Unsur lain yang ada dalam pertobatan adalah penyesalan. Namun tidak semua penyesalan dapat diartikan pertobatan. Seperti Yudas Iskariot yang menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Setelah itu Yudas Iskariot sangat menyesal tetapi ia tidak datang kepada Allah untuk minta pengampunan-Nya.

Jadi bertobat berarti keadan dimana seorang berdosa menyesal karena dosa-dosanya yang dinyatakan oleh Firman Allah dan gerakan Roh Kudus sehingga dengan kehendaknya sendiri ia mengubah pikiran dan hatinya lalu berbalik dari dosanya dan berpaling kepada Allah. Sebelumnya ia ber-tuhan-kan diri sendiri, kini ia menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam hidupnya. Dengan demikian pertobatan menyangkut 3 hal yaitu:


1.      Pertobatan menyangkut pikiran seseorang.

            "Dan anak itu menjawab: "Aku tidak mau" , tetapi kemudian  ia menyesal lalu pergi juga" (Matius 21:30). Perkataan "menyesal" di sini berarti mengubah pikiran. Hal ini juga dilukiskan dalam perumpamaan Anak Terhilang (Lukas 15) dan dalam Lukas 18.


2.      Pertobatan menyangkut perasaan hati.

            Rasul Pauklus berkata: "Nah sekarang aku bersuka cita, bukan karena kamu telah berduka cita, melainkan karena duka citamu membuat kamu bertobat (II Korintus 7:9). Ini adalah duka cita sedih dalam hati yang disebabkan oleh perbuatan yang melanggar hukum Allah. Pertobatan sejati mengakibatkan perubahan sikap hati yang besar.


3.      Jika seorang menyadari bahwa dirinya berdosa dan hanya menyesali dosa itu, tetapi tidak meninggalkan dosanya, maka itu bukan pertobatan yang sungguh.

Dalam pertobatan yang sungguh termasuk pengakuan dosa kepada Allah serta permintaan ampun. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pertobatan merupakan karunia Allah. Ia menarik hati kita kepada pertobatan. Itulah pekerjaan Roh Kudus di dalam manusia (Roma 2:4). Kita diperintahkan Allah untuk bertobat dan Ia memberikan dorongan pertobatan kepada barangsiapa yang mau memperhatikan gerakan Roh Kudus di dalam hatinya.

Pertobatan dari seseorang yang belum mengenal Yesus Kristus dan datang menyesali dosanya serta menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatnya disebut pertobatan pertama yang terjadi hanya satu kali. Namun pertobatan dari seorang yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatnya terjadi berulang kali untuk pengudusan dari dosa-dosanya yang diperbuat disebut pertobatan yang terus-menerus.


HASIL DARI PERTOBATAN

1.      Menerima pengampunan dosa dan penyucian (1Yohanes 1:9; Yesaya 1:18). Tanpa pertobatan tidak ada pengampunan dosa. Karena itu pertobatan merupakan jalan bagi manusia untuk memperooeh pengampunan dosa.

2.      Mempunyai rasa damai dengan Allah (2 Korintus 5:19-20). Pengampunan berarti juga perdamaian. Orang yang memiliki pengampunan kini memiliki hubungan yang baru dengan Allah. Hubungannya dengan Allah telah dipulihkan sehingga ia menjadi sekutu Allah kembali. Manusia juga mempunyai damai di dalam dirinya karena tidak ada lagi perasaan bersalah yang menuduh dirinya.

3.      Ada sukacita besar pada Allah (Luk. 15:10). Pertobatan membawa suatu sukacita yang besar bagi Allah karena yang hilang telah ditemukan dan yang mati telah hidup kembali. Manusia yang menerima pengampunan juga bersuka cita karena ia telah memiliki segala haknya sebagai anak.

4.      Ada suka cita besar pada malaikat-malaikat Allah (Lukas 15:1-10). Suka cita yang besar tidak hanya terjadi pada pihakAllah dan manusia melainkan juga para malaikat. Mereka turut dalam kesukaan Allah karena manusia yang berdosa telah kembali kepada Allah.

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "PELAJARAN (PA)" Lainnya