headerphoto

BUDIDAYA TANAMAN OBAT TEMULAWAK (BE)

Rabu, 6 Mei 2009 07:50:43 - oleh : admin

 

BUDIDAYA TANAMAN TEMULAWAK

 

 

PENDAHULUAN

 

Kegunaan utama rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) adalah sebagai bahan baku obat, karena dapat merangsang sekresi empedu dan pankreas. Sebagai obat fitofarmaka, temulawak bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran pencernaan, kelainan hati, kandung empedu, pankreas, usus halus, tekanan darah tinggi, kontraksi usus, TBC, sariawan, dan dapat dipergunakan sebagai tonikum. Secara tradisional, banyak digunakan untuk mengobati diare, disentri, wasir, bengkak karena infeksi, eksim, cacar, jerawat, sakit kuning, sembelit, kurang nafsu makan, kejang-kejang, radang lambung, kencing darah, ayan, dan kurang darah. Kebutuhan simplisia temulawak sebagai bahan baku obat tradisional di Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 2003 menduduki peringkat pertama dilihat dari jumlah serapan industri obat tradisional. Banyaknya ragam manfaat temulawak baik untuk obat tradisional maupun fitofarmaka karena rimpangnya mengandung protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kimia minyak atsirinya antara lain, feladren, kamfer, turmerol, tolilmetilkarbinol, ar-kurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, ß-tumeron dan xanthorizol yang mempunyai kandungan tertinggi (40 %).


PERSYARATAN TUMBUH

Tumbuh baik pada jenis tanah latosol, andosol, podsolik dan regosol. Tanah bebas dari penyakit layu bakteri, ketinggian tempat 100 - 1500 m dpl, dengan curah hujan 1500 - 4000 mm/th.


BAHAN TANAMAN

Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh liar dibawah tegakan jati. Saat ini sudah mulai dibudidayakan secara terbatas dan diantara populasi tersebut potensi produksi dan mutunya beragam. Balittro telah mempunai 10 nomor harapan temulawak yang  berpotensi produksi (20 - 40 ton/ha), kadar minyak atsiri (6,2 - 10,6 %), kadar kurkumin (2,0 - 3,3 %).

Bahan tanaman untuk benih harus tepat dan jelas nama jenis, varietas dan asal usulnya. Temulawak termasuk tanaman berbatang basah, tingginya dapat mencapai 2,5 m, bunganya berwarna putih kemerah-merahan atau kuning, bertangkai panjangnya 1,5 - 3 cm, berkelompok 3 sampai 4 buah. Tumbuhan ini tumbuh subur pada tanah yang gembur, dan termasuk jenis temu-temuan yang sering berbunga. Bunganya langsung keluar dari rimpang dengan bunga berwarna merah, kelopak hijau muda, pangkal bunga bagian atas berwarna ungu. Bagian yang dipanen dan dipergunakan adalah rimpang yang beraroma tajam dengan daging rimpang berwarna kuning tua sampai jingga. Panen dapat dilakukan pada umur 7 - 12 bulan setelah tanam atau daun telah menguning dan gugur. Sebagai bahan tanaman untuk benih digunakan tanaman yang sehat berumur 12 bulan.


PEMBENIHAN

Untuk benih bisa menggunakan rimpang induk dan anak rimpang. Apabila digunakan rimpang induk maka hanya seperempat bagian (satu rimpang induk dibelah menjadi empat bagian membujur) untuk satu lubang tanam. Sedang apabila menggunakan anak rimpang ukuran benihnya 20 - 40 g/potong. Sebelum ditanam benih ditumbuhkan dahulu sampai mata tunasnya tumbuh dengan tinggi 0,5 - 1 cm, sehingga dapat diperoleh tanaman yang seragam.


BUDIDAYA

Penerapan teknologi budidaya yang mengacu kepada SPO yang dimulai dari pemilihan jenis, varietas unggul/harapan, lingkungan tumbuh, pembenihan, pengolahan lahan, cara tanam, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, cara panen dan pengolahan pasca panen akan menghasilkan bahan baku yang bermutu tinggi dan terstandar. Sebaiknya tanam dilakukan pada awal musim hujan.


Persiapan lahan

Tanah diolah agar menjadi gembur, diupayakan agar drainase sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi penggenangan air pada lahan, oleh karena itu perlu dibuat parit-parit pemisah petak. Ukuran petak

lebar 2,5 - 4 m dengan panjang petak disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Jarak tanam

Jarak tanam temulawak bervariasi antara, 50 x 50 cm, 50 x 60 cm atau 60 x 60 cm, pada sistem budidaya monokultur. Apabila tanaman akan ditanam secara pola tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah, maka jarak tanamnya 75 x 50 cm.

Pola tanam

Tanaman ini bisa ditanam dengan pola tumpangsari dengan kacang tanah, menggunakan jarak tanam antar baris lebih lebar yaitu 75 cm dan jarak dalam barisan 50 cm. Tanaman kacang tanah ditanam bersamaan dengan menanam temulawak, pada umur 3 - 4 BST kacang tanah sudah dapat dipanen. Tumpang sari dengan kacang tanah dapat menambah kesuburan tanah khususnya dapat menambah unsur N tanah.

Pemupukan

Pupuk kandang 10 - 20 ton/ha sebagai pupuk dasar diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl, dengan dosis masingmasing 200 kg, 100 kg dan 100 kg/ha untuk pola monokultur, serta 200 kg/ha untuk pola tumpangsari. SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam, Urea diberikan 3 agihan pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh masing-masing sepertiga bagian.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat hara dengan gulma dan menjaga kelembaban, suhu serta kegemburan tanah. Pembumbunan dilakukan untuk memperbaruhi saluran drainase pemisah petak, tanah dinaikkan ke petak-petak tanam, biasanya dilakukan setelah selesai penyiangan.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman

Jarang terjadi serangan hama dan penyakit. Namun untuk menghindari munculnya serangan perlu diantisipasi dengan cara pencegahan. Tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit busuk rimpang yang disebabkan Ralstonia solanacearum, dilakukan dengan penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (perendaman dengan antibiotik), menghindari pelukaan (menaburkan abu sekam

dipermukaan rimpang), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat, inspeksi kebun

secara rutin.

PANEN

Umur panen

Panen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada umur 10 - 12 bulan setelah tanam, biasanya daun mulai luruh atau mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20 - 24 bulan.

Cara panen

Panen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara keseluruhan.


PASCA PANEN

Pembersihan/pencucian

Rimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian dikering anginkan sampai kulit rimpangnya tidak basah lagi. Perajangan rimpang Setelah itu, rimpang diiris membujur dengan ketebalan 2 - 3 mm.

Pengeringan simplisia

Rajangan rimpang dijemur dengan menggunakan energi matahari diberi alas yang bersih, atau bisa dengan pengering oven dengan suhu 40 - 60o C, hingga mencapai kadar air 9 - 10 %.


PENGANEKARAGAMAN PRODUK

Rimpang temulawak sebagian besar digunakan untuk bahan baku obat, produknya berupa minyak temulawak, oleoresin, pati, instant, zat warna kuning, beberapa jenis makanan, minuman, dan minyak atsiri.


USAHATANI

Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam teknologi budidaya perlu diperhitungkan. Berikut analisis usahatani temulawak

dengan teknologi budidaya anjuran Balittro. Hasil Usahatani Budidaya Temulawak pada luasan 1 hektar


I. PENGELUARAN UPAH

1. Pengolahan tanah I 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-

2. Pengolahan tanah II 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-

3. Pemupukan dasar 30 HOK 15.000,- 450.000,-

4. Tanam 60 HOK 15.000,- 900.000,-

5. Pemeliharaan 100 HOK 15.000,- 1.500.000,-

6. Panen 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-

7. Prosesing hasil panen 60 HOK 15.000,- 900.000,-

TOTAL UPAH   7.800.000,-


II. PENGELUARAN BAHAN

1. Benih 1000 kg 3.000,- 3.000.000,-

2. Pupuk kandang 20 ton 80.000,- 1.600.000,-

3. Urea 200 kg 1.750,- 3.500.000,-

4. SP36 100 kg 1.750,- 1.750.000,-

5. KCl 100 kg 3.000,- 3.000.000,-

6. Karung plastik 750 lbr 2.000,- 1.500.000,-

TOTAL BAHAN 14.350.000,-

TOTAL PENGELUARAN

(I+II)

22.150.000,-


III. PENDAPATAN BRUTO

Produksi rimpang segar 22.500 kg 1.500,- 33.750.000,-


IV. KEUNTUNGAN 11.600.000,-

Ratio biaya dengan pendapatan atau benefit cost ratio (B/C) B/C merupakan salah satu cara untuk mengukur kelayakan usaha temulawak. B/C merupkan pembanding antara hasil penjualan dengan total pengeluaran biaya produksi, B/C usahatani temulawak = 1,52.


Titik balik modal atau break even point (BEP) Titik balik modal adalah suatu kondisi saat investasi tidak

mengalami kerugian dan tidak mndapatkan keuntungan atau disebuit juga titik inpas. Titik inpas ada dua yaitu titik inpas produksi dan titik inpas harga. Titik inpas (BEP) produksi diperoleh dari total pengeluaran dibagi harga per-1 kg temulawak saat itu, berarti pada jumlah produksi tertentu usahatani temulawak berada pada titik inpas. Sedangkan BEP harga diperoleh dari total pengeluaran dibagi total produksi rimpang temulawak, berarti pada harga yang diperoleh usaha tidak merugi dan tidak beruntung. BEP produksi usahatani temulawak = 14.768 kg rimpang segar. BEP harga usahatani temulawak = Rp. 985,-/kg rimpang segar.


Efisiensi penggunaan modal atau return of investment (ROI) Perhitungan nilai keuntungan usahatani temulawak yang dikaitkan dengan modal yang telah dikeluarkan. ROI diperoleh dari hasil bagi antara penjualan dengan biaya produksi dikalikan 100%, ROI usahatani temulawak adalah 152,40%.


Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika

 

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "BISNIS DAN EKONOMI (BE)" Lainnya