headerphoto

PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

Kamis, 5 Maret 2009 21:09:51 - oleh : admin

PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

 

 
LATAR BELAKANG ALKITAB
Apa kata Firman Tuhan mengenai musik dan pujian? Firman Tuhan mengungkapkan banyak hal mengenai musik dan pujian. Tuhan sendirilah yang menaruh pujian pada setiap mulut manusia, ciptaan-Nya yang tertinggi. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam Mazmur 40:4a, yang berbunyi, "Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku, untuk memuji Allah kita." Tuhan juga menaruh pujian dalam mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu (lihat Matius 21:16 dan Mazmur 8:3). Tuhan juga menaruh pujian pada semua ciptaan-Nya, baik itu malaikat, matahari, bulan, bintang, air, api, hujan, binatang, buah-buahan dan sebagainya (lihat Mazmur 148). Tuhan berkenan pada pujian dan nyanyian setiap umat-Nya, bahkan Dia bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya (lihat Mazmur 22-4).
 Imamat Yang Baru

Di bawah Perjanjian Lama, Allah telah menetapkan suatu keimamatan untuk mewakili umatNya (bertindak sebagai penengah) di hadapanNya. Pelayanan mereka mencakup sistem yang rumit dari upacara-upacara agama dan upacara-upacara lainnya. Upacara-upacara ini merupakan bayangan dari pernyataan rohani yang akan datang. Upacara-upacara itu merupakan bayangan dari hal-hal tersebut, tetapi bukan merupakan hal itu sendiri (Ibr 8:5; 10:1).

Pelayanan keimamatan dari Kristus menggenapi setiap macam pelayanan bayangan dari keimamatan yang ada di dalam Perjanjian Lama. Dia sudah menggenapi semua bayangan tersebut. Dia adalah penggenapan dari semua jenis pelayanan yang tertulis. Keimamatan orang Lewi telah diganti oleh keimamatan yang baru (Ibr 7:11-14). Dengan istilah-istilah perjanjian baru, setiap orang percaya adalah imam di hadapan Allah.

Kita tidak mengorbankan korban-korban binatang, seperti yang dilakukan oleh imam-imam dalam perjanjian lama. Kita disebut menjadi "imamat yang kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani, yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah" (1Ptr 2:5).

Salah satu persembahan rohani yang kita berikan adalah pujian. "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya" (Ibr 13:15).

Kata Yunani untuk "mempersembahkan" adalah anaphero, yang berarti membawa, membangkitkan dan mempersembahkan. Kata yang sama ini dipakai dalam  Kel 24:5 (di dalam versi Yunani Septuaginta) dimana mereka "mempersembahkan"  "... korban bakaran, dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada Tuhan".


Elemen-elemen Atau Bagian-bagian Yang Penting Dari Pujian

APAKAH PUJIAN ITU?

Andaikata kita dapat membelah atau menganalisa apakah pujian itu, apakah yang dapat kita temukan di tengah-tengahnya? Apakah intisari, bahan dan alamiah dari pujian itu? Dari apakah pujian yang benar itu dibuat? Apakah sebenarnya bagian-bagian yang vital ada di dalamnya? Marilah kita melihat pertama-tama pada kata-kata yang terdapat dalam Perjanjian Lama yang diterjemahkan sebagai "pujian", agar kita dapat menentukan sesuatu mengenai arti dan makna dari apa sebenarnya yang dimaksud dengan pujian itu.


1. Kata-kata dalam Perjanjian Lama yang Diterjemahkan Sebagai "Pujian"

a. Hallal. Inilah kata yang paling sering digunakan dalam Perjanjian Lama untuk pujian. Kata ini muncul sebanyak delapan puluh delapan kali. Arti yang terutama adalah "untuk menghasilkan suara yang jelas". Arti selanjutnya adalah "membanggakan, memperingati, meneriakkan, untuk kemuliaan di dalam..."

Karena itu, pujian yang benar, harus mempunyai suara yang jelas dan terang.Tidak boleh ada keragu-raguan akan apa yang dimaksudkan dalam nyanyian itu. Kita harus dapat mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud dalam nyanyian itu.Didalamnya ada kata-kata perayaan, dan pemujaan/penyanjungan Tuhan.

b. Hilluwi. Hilluwi (yang diambil dari kata Hallal) adalah "perayaan ucapan syukur diakhir masa panen". Pujian semacam ini harus dilakukan dengan penuh sukacita.

Keadaan setelah panen di dalam dunia pertanian dapat menggambarkan inti dari kata-kata ini. Bulan-bulan yang panjang penuh kekuatiran, telah lampau. Hasil-hasil panen telah dikumpulkan dengan baik. Pekerjaan-pekerjaan berat telah diselesaikan, alat-alat yang digunakan telah diletakkan. Dan hasil-hasil tanah telah di tumpuk di dalam lumbung dengan aman. Saat itu adalah saat untuk merayakan keberhasilan dari suatu panen, saat untuk gembira dan berpesta.

Nyanyian dan tarian merupakan bagian yang dilakukan hari itu. Kegembiraan adalah suatu pernyataan dari rasa ucapan syukur terima kasih dan pujian.

c.   Tehillah. Tehillah adalah kata yang lain yang diambil dari kata hallal. Kali ini tekanannya adalah nyanyiannya, artinya kita menyanyikan hallal kita, perayaan kita! Kita perdengarkan nyanyian yang jelas untuk memuji Allah. Kita merayakan Dia di dalam nyanyian kita.

Nyanyian dan nyanyian rohani harus dengan jelas dan tanpa salah untuk memuji  Allah. Kita harus bangga terhadap Dia, baik di dalam kata-kata dan di dalam irama musik.


d. Shabach. Ini berarti "berteriak dengan suara keras, teriakan penuh kemenangan, memuliakan Dia di dalam kemenangan!" Pujian tidak selalu harus ramai. Kita tidak selalu harus berteriak. Ada saat-saat kita berteriak penuh kemenangan apabila hal itu cocok dengan pujian kita pada Allah.  Mzm 47:2:  "... elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai".biarlah kita bersorak-sorai dengan segenap hati kita. Apabila saat itu dalam keadaan demikian, janganlah menyanyi dengan setengah hati;


e. Zamar. Yang artinya adalah "untuk menjamah atau memainkan senar-senar". Di sini jelas yang dimaksudkan adalah memuji Tuhan dengan alat-alat musik. Juga mengandung arti "nyanyikan pujian dengan iringan alat-alat musik". Betapa indahnya memainkan bagi Tuhan segala macam alat musik, menggubah bagiNya lagu-lagu yang indah untuk memuji Allah.


f. Yadah. Artinya yang pertama adalah "menyatakan pengakuan dari ucapan syukur". Namun demikian, yadah juga menunjukkan sesuatu pemikiran tentang mengulurkan tangan-tangan. "Memberikan ucapan syukur dengan tangan yang terulur kepada Allah."


g.   Towdah. Kata ini datang dari kata yang sama dari Yadah, karena itu mempunyai arti yang mirip; tetapi Towdah mempunyai arti yang lebih khusus: Artinya ialah "mengulurkan tangan dan pemujaan dan ucapan syukur".


h.   Barak. "Sujud di dalam pemujaan". Di sini, sikap dari seluruh tubuh berbicara tentang pujian kita. Untuk bersujud di hadapan seseorang, adalah pernyataan kerendahan hati dan untuk menunjukkan betapa berharganya orang yang kita hadapi.


2. Isi dari Pujian

Marilah kita sejenak memikirkan beberapa isi yang dapat kita tangkap dari bentuk-bentuk pujian di bawah ini.

a. Dengan Mengekspresikan Tubuh. Sikap ini merupakan gerakan tubuh yang mendemonstrasikan persepsi spiritual pandangan rohani. Pujian dan penyembahan dimulai dari tanggapan hati kita pada pernyataan Allah dan kebesaranNya. Agar menjadi pujian yang benar, hal-hal di atas harus terlihat.


b. Dengan Suara yang Dapat Didengar. Yang mungkin dikecualikan adalah BARAK, yang merupakan sikap tubuh yang sujud dan penuh penyembahan; sikap menyembah yang sedemikian itu dapat dilakukan dengan diam. Namun, kita dapat juga bersujud DAN menyanyi atau bersorak kepada Allah.


c.   Aktif Secara Fisik. Memuji menuntut keikut sertaan fisik. Tidak selalu diam atau tidak aktif. Karena pujian adalah sesuatu yang kita LAKUKAN!


d. Merupakan Pelepasan Dari Emosi Kita. Memuji Tuhan BUKANLAH suatu latihan emosional; memuji Tuhan adalah aktivitas rohani. Bagaimana pun, pasti ada pelampiasan emosional.


Sangat banyak orang Kristen takut mengekspresikan emosi mereka. Mereka selalu mencari cara untuk menindasnya, karena meyakini bahwa hal itu terlalu duniawi dan kedagingan. Istilah-istilah Alkitab tentang pujian memerlukan pelepasan emosional yang positif tetapi terkontrol.


Allah memberi kita emosi, dan emosi-emosi itu dimaksudkan untuk memuliakan Dia. Daud berkata bahwa kita harus "Memuji Tuhan dengan seluruh yang ada di dalam kita" ( Mzm 103:1). Hal itu termasuk emosi-emosi kita. Emosi manusia harus diungkapkan.


Apabila kita tidak menyediakan pelepasan secara positif dan sehat, maka ada pelepasan yang negatif dan tidak sehat. Memuji Allah adalah cara yang paling sehat untuk melepaskan emosi-emosi anda. Hal itu adalah cara yang telah ditentukan Allah!


e.  Penghargaan. Setiap ekspresi yang benar dari pujian harus penuh dengan penghargaan, berarti menghormati dan menghargai seseorang dengan betul.


Aktivitas memuji tidak boleh mempunyai perasaan yang tidak menghargai Allah. Memuji Allah bukan sekedar cara untuk menyenangkan diri kita sendiri.


Memuji bukan terutama untuk kesenangan hati seorang manusia, walaupun kita juga menikmati ketika melakukannya. Namun pujian itu harus dan selalu harus merupakan suatu pernyataan untuk menyenangkan dan menghargai Allah.


Untuk melepaskan emosi kita melalui pujian, hingga merupakan sesuatu yang alkitabiah dan sah, kita harus berhati-hati untuk jangan sampai terlalu berlebihan dan membuatnya sebagai sesuatu yang dipertontonkan secara kedagingan. Penghargaan yang benar harus selalu menjadi inti dari pujian kita.


Pujian: Berkat-berkat Dan Halangan-halangan


BAGAIMANA PUJIAN MEMBAWA BERKAT ALLAH

1. Di Dalam Lingkaran Hydrologi

Di alam ini ada suatu daur ulang yang dapat memberikan berkat yang besar bagi bumi. Dan daur ulang itu dikenal sebagai LINGKARAN HYDROLOGI

Di dalam Alkitab lingkaran hydrologi ini seringkali diucapkan. Hal ini terdiri dari proses dua langkah.

a.       Penguapan. Air menguap dari samudera atau danau, kemudian naik keatas menjadi uap air dan membentuk awan-awan.


b.      Hujan Yang Turun. Uap air kemudian makin lama makin menebal, dan berubah kembali menjadi air dan jatuh berupa hujan ke atas bumi ini. Hujan ini kemudian menjadikan alam ini subur dan memberikan hasil yang banyak.


Peristiwa ini dipakai untuk menggambarkan prinsip rohani: Pada saat pujian kita naik ke Sorga, pujian-pujian itu membentuk "hujan berkat" (Yeh 34:26). Hujan-hujan berkat ini kemudian akan turun atas kita sebagai berkat-berkat dari Allah.

"Ia menarik ke atas titik air, dan memekatkan kabut menjadi hujan, (yang dicurahkan oleh mendung, dan disiramkan ke atas banyak manusia). Siapa mengerti berkembangnya awan? Ia mengembangkan terangNya di sekelilingNya, dan menudungi dasar laut" (Ayb 36:27-30 ).


Allah menyebabkan matahari bersinar di atas samudera. Panas itu menyebabkan air di samudera itu menguap. Sebagai uap yang panas, uap itu naik menuju ke langit di mana uap-uap itu membentuk awan-awan. Ketika uap-uap itu menjadi dingin, uap itu mencair kembali dan membentuk titik-titik air. Titik-titik air ini kemudian menjadi hujan "... dicurahkan oleh mendung, dan disiramkan ke atas banyak manusia" (Ayb 36:28).


2. Kebenaran-kebenaran Rohaninya

Proses alamiah ini menggambarkan kebenaran rohani.

a.   Allah Membuat Berkat-BerkatNya Itu Bercahaya di Atas Setiap Manusia sama seperti matahari yang bercahaya di atas samudera.

b.   Hati Manusia Harus Dipanaskan terhadap Allah dan memberi tanggapan atas berkat-berkatNya yang telah disinarkan terhadap mereka.

c.   Pujian-pujian Manusia Itu Harus Naik pada Allah seperti halnya uap air yang telah dibentuk oleh matahari dari samudera tersebut.

d.   Pujian-pujian Itu Membentuk Awan-awan Berkat.

e.   Allah Menyebabkan Awan-awan Menjadi Dingin Dan Mengembun menjadi hujan kemudian turun dengan limpahannya keatas bumi ini.

f.    Berkat-berkat Dari Hujan ini menjadikan bumi ini subur dan makmur, menyediakan benih-benih bagi para penabur dan roti untuk dimakan.

g.   Kelebihan dari Hujan ini akan membentuk sungai-sungai, dan kemudian mengalir ke laut, dari mana mereka sebenarnya berasal, dan seluruh proses itu akan kembali berulang.


3. Ilustrasi Dari Alkitab

Perhatikanlah ayat-ayat Alkitab di bawah ini yang menggambarkan seluruh proses tersebut:

a.       Am 5:8; 9:6 Tuhan "... memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi..."

Amos adalah seorang petani, dan sangat mengerti proses bagaimana hujan itu dibentuk. Di sini dia menggambarkan proses dari penguapan itu. Allah "memanggil air laut" Untuk menguap dan dari uap itu kemudian turun hujan ke atas permukaan bumi ini.

b.   Mzm 147:7,8 -"Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput".

c. Ams 11:25 -"Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum" (terjemahan bebas: Jiwa yang memberi berkat akan menjadi gemuk: dan dia yang memberi air dia juga akan diberi minum).

Pada saat kita menyanyikan pujian bagi Allah, Tuhan membentuk awan-awan dari berkat itu dari puji-pujian kita, dan dari awan itu Dia mengirimkan hujan berkat ke atas bumi ini. Jumlah dari berkat itu ditentukan oleh pujian yang kita kirimkan pada Allah. Makin banyak kita memberi makin banyak juga Allah membalas kita.

Pada masa Milenium yang akan datang (masa seribu tahun) pemerintahan Kristus di atas bumi, semua bangsa di bumi diwajibkan untuk menyembah Yehovah. Apabila mereka gagal melakukannya, Allah akan menghentikan hujan dari mereka.

"Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan" (Za 14:17) Tak ada penyembahan tak ada hujan!

c.       Pkh 1:7 -"Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; kemana sungai mengalir, kesitu sungai mengalir selalu".


d.      Pkh 11:3 -"Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi..."


e.       Hos 6:3 - "... Dia (Tuhan) akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi".


g.   Yes 45:8 -"Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan..."


h.   Za 10:1 -"Mintalah hujan daripada Tuhan pada akhir musim semi! Tuhanlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang".


i.    Yes 55:10 - "... hujan dan salju turun dari langit dan...mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan".


j.    Yak 5:7 -"Karena itu saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun musim gugur dan musim semi".



4. Hujan Akhir

Ayat-ayat Alkitab di sini dengan jelas menunjukkan bahwa akan ada "hujan akhir" dari Roh Allah sebelum kedatangan dari Tuhan. Masa itu dikenal sebagai "saat hujan akhir" (Za 10:1).


Roh Allah akan turun dari Sorga sebagai hujan yang lebat. Nabi Yoel menubuatkan hujan itu sebagai berikut: "... hujan pada awal dan hujan pada akhir musim [bersama-sama] seperti dahulu" (Yl 2:23).

Biasanya, bangsa Israel mengalami dua musim hujan. Musim hujan yang pertama datang pada saat masa mereka menanam, mereka menggemburkan tanah dan kemudian menanam benih-benih. Musim kedua datang setelah musim panas yang kering, selama berbulan-bulan pada akhir tahun masa menanam. (Inilah saat di mana Pesta Nafiri dirayakan. Pada hujan akhir ini benih-benih gandum mulai masak dan siap untuk dituai.

Dari sinilah kita mengenal istilah hujan awal dan hujan akhir. Namun hujan lebat rohani yang begitu mulia dari Roh Allah pada akhir zaman ini adalah sama seperti jika kedua musim hujan datang bersama-sama!


Petani Sorgawi akan sabar menanti datangnya hujan yang berlimpah ini dan akhirnya Dia dapat mengumpulkan hasil tuaian yang besar. Apakah yang menyebabkan hujan yang lebat ini? Penyembahan yang limpah pada Allah yang dinaikkan oleh orang-orang yang memuji Dia yang naik ke Sorga seperti uap air yang membentuk awan yang begitu besar!


Dia akan membangkitkan umat pemuji pada akhir zaman ini; dan mereka akan bangkit seperti angkatan perang yang gagah perkasa, yang berbaris di atas permukaan bumi. "Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka" (Mzm 149:6).

 

Pujian-pujian mereka akan membentuk awan-awan yang begitu banyak yang terisi penuh dengan berkat. Allah akan mendinginkan mereka, dan mengirim kembali hujan-hujan berkat yang jauh lebih besar dari apa yang pernah kita saksikan sebelumnya. Hujan lebat yang melimpah ini akan menyiapkan tuaian akhir yang sangat besar dari jiwa-jiwa bagiNya.


Cara-cara Alkitabiah Untuk Memuji Dan Menyembah Allah

A. PUJIAN DAN PENYEMBAHAN: ADA PERBEDAAN


1. Ucapan Syukur

Pujian pada dasarnya adalah suatu ekspresi dari kekaguman dan sukacita. Tetapi pada tingkat yang lebih tinggi, juga merupakan ekspresi dari rasa syukur dan terima kasih untuk kebaikan-kebaikan yang telah diterima. Karena itu, pujian dan ucapan syukur seringkali dihubungkan bersama-sama dan seringkali saling berhubungan.

Namun, bentuk murni dari pujian tidak termasuk ucapan syukur dan terima kasih. Yang paling penting, pujian itu merupakan ekspresi dari pujaan dan pengagungan pada sesuatu yang dipuji seseorang, walaupun tanpa memandang apakah kebaikan-kebaikan telah diterima atau tidak. Beberapa orang merasa bahwa tingkatan yang lebih tinggi dan pujian ini disebut 

PENYEMBAHAN".


2. Pemujaan

Karena itu, penyembahan pada Allah, pada dasarnya adalah meninggikan pribadiNya, sifat-sifatNya, keadaanNya dan kesempurnaanNya. Pemujaan ini diberikan pada Allah untuk siapa dan apakah Dia itu, bukan hanya karena apa yang telah dilakukanNya untuk kita. "Berikanlah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan" ( Mzm 29:2).


Penyembahan pada mulanya adalah sesuatu kesadaran yang terdalam akan penghargaan. Kemudian merupakan suatu ekspresi yang diperlihatkan dari penghargaan yang didalam itu. Penghargaan itu belum dapat disebut penyembahan sebelum tampak ekspresinya secara nyata.


Apabila penghargaan itu masih ada di dalam hati dan pikiran, itu masih disebut suatu kekaguman. Apabila ekspresi itu kemudian dinyatakan dengan sikap yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar, maka baru namanya penyembahan.


Mempersembahkan Korban Pujian


"Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya" ( Ibr 13:15).



APAKAH KORBAN PUJIAN ITU?

Ada perbedaan yang jelas antara memuji Allah dan mempersembahkan "korban pujian".

Untuk seorang anak Allah yang mempunyai hubungan baik dengan Bapanya, biasanya pujian itu merupakan sesuatu yang dapat mengalir dengan mudahnya. Kita mempunyai begitu banyak alasan untuk dapat kita pujikan, sehingga apabila kita memikirkan Dia, secara spontan pujian akan mengalir dari hati kita.

Biasanya pujian itu juga mengandung ucapan syukur, dan kita melayani Allah lewat pujian untuk semua berkat dan keuntungan serta kebaikan yang telah diberikanNya di dalam kehidupan kita.

"Korban pujian" adalah hal yang berbeda. Kadang-kadang korban pujian itu tidak dapat mengalir begitu saja dengan mudah dan spontan. Pujian ini tidak kita berikan karena segala sesuatu berjalan dengan begitu baik dan kita merasa bahagia serta diberkati. Korban pujian adalah sesuatu yang kita persembahkan pada Allah pada saat kita sepertinya tidak bisa memuji Dia.

Semua rasanya serba salah. Dunia ini rasanya sedang runtuh. Pada keadaan-keadaan ini kita memuji Allah, bukan karena keadaan kita yang baik, tetapi sebaliknya kita memuji tanpa melihat keadaan sekeliling kita.

Pujian kita bukannya naik karena kita merasa senang dan memberikannya sebagai ungkapan perasaan kita yang berbahagia. Pada situasi seperti ini, kita memuji Allah dengan iman. Kita memuji Dia dalam ketaatan atau karena taat. Kita memuji Dia, karena siapa Dia dan tidak semata karena apa yang telah dilakukanNya pada kita. Pujian semacam ini tidak datang dengan mudah. Pujian ini bukanlah sesuatu yang murahan. Tetapi suatu hal dimana kita harus membayar dengan harga yang mahal. Tetapi hal itu memberikan sukacita yang khusus didalam hati Bapa, dan Dia senang menerima korban pujian ini.


1. Merupakan Pujian yang Terus Menerus

Daud mengenal/mengetahui ini. Dia mengatakan, "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepadaNya tetap didalam mulutku" ( Mzm 34:2).

Pujian semacam ini bukan pujian yang datang sewaktu-waktu dan tidak pasti. Pujian ini tidak lahir hanya pada "cuaca yang baik". Juga bukan sesuatu yang murahan, sembarangan dan tidak berharga apa-apa. Pujian ini bukan didasarkan atas perasaan atau sentimental. Bukanlah hal yang dangkal dan kosong. Tetapi sesuatu yang konsisten. Yang dipersembahkan pada Allah secara terus menerus; pada masa yang baik, dan dimasa yang buruk; ketika segala sesuatu tampak indah, ataupun ketika tak ada satupun yang berjalan baik.

Kita memuji pada saat-saat ketika "Tuhan memberi" dan juga pada saat "Tuhan mengambilnya kembali". Pada saat demikian kita diberi kemampuan berkata,  "... terpujilah nama Tuhan" (Ayb 1:21).

Itulah pujian yang benar pada Allah apabila seorang bayi mati, dan kita tidak mengerti mengapa.

Itu adalah pujian yang benar pada Allah apabila penyakit datang menimpa dan dokter mengatakan tidak ada harapan lagi.

Itu adalah pujian yang benar ketika anda kehilangan pekerjaan anda, dan anda berada bermil-mil jauhnya dari mana-mana, tanpa sebuah dongkrak, dan ban mobil anda bocor.

Justru pada saat seperti ketika langit tampaknya seperti baja. Allah tampaknya berada beribu-ribu mil jauhnya. Doa-doa anda sepertinya tidak didengar, atau paling tidak terjawab.

Sungguh benar-benar baru dapat dirasakan suatu pujian yang anda korbankan pada Allah apabila anda harus membayar mahal ketika melakukannya. Perasaan anda secara alami menentangnya. Teman-teman anda mematahkan semangat anda. Hati anda terasa begitu berat; dan tidak ada sumber kehidupan (air mata) dalam kehidupan anda.

Iblis berkata, "Untuk apa sebenarnya anda memuji Allah?" Dia berkata, "Tak seorang pun dapat diharapakan untuk memuji Allah pada saat-saat seperti itu. Bahkan Allah sendiri tidak mengharapkan anda untuk melakukannya. Itu namanya fanatik". Namun, anda tahu jauh di lubuk hati anda bahwa Allah layak untuk dipuji-puji. Anda mengetahui bahwa Dia tetap berada di atas tahtaNya. Dia tetap yang Mahakuasa, Allah dari semesta alam. Dia tidak berubah didalam bidang apapun. Dia sama, kemarin, sekarang dan selamanya. Pujilah namaNya yang indah!


2. Pujian yang Dapat Didengar

Itulah buah bibir kita. Bibir kita dapat menghasilkan kata-kata. Dan kata-kata itu dapat membantu kita untuk mengungkapkan perasaan kita.

Karena itu korban pujian adalah sesuatu yang kita ucapkan.

Sesuatu yang kita utarakan

Setan dapat mendengarnya

Orang-orang lain dapat mendengarkannya

Kita dapat mendengarkannya sendiri.

Dan, yang paling penting, Allah dapat mendengarnya


Korban pujianlah yang Paulus dan Silas persembahkan pada Allah pada tengah malam, ketika mereka terikat erat di dalam penjara di bawah tanah (Kis 16:25).

Mereka telah dibuang di dalam penjara karena berbicara tentang Yesus. Mereka bukanlah penjahat. Mereka tidak melakukan kejahatan-kejahatan yang sadis. Mereka sedang mengabarkan berita Injil KerajaanNya, dan karena itu mereka dibuang ke dalam penjara. Mereka telah di rajam sehingga berbilur-bilur. Punggung mereka penuh dengan luka-luka terbuka dan berdarah. Mereka luka parah. Dan luka-lukanya itu sangat berat. Setiap urat syaraf tubuhnya seolah-olah berteriak kuat-kuat. Setiap inci dari punggungnya begitu sakit rasanya. Kedua tangan dan kakinya dirantai pada dinding. Mereka tak dapat meletakkan dirinya dengan nyaman, bagaimanapun mereka berusaha.

Saat itu tengah malam. Saat roh manusia datang sedang berada di dalam istirahatnya; saat dimana roh mereka berada dalam keadaan tertekan dan putus asa. Saat secara manusia tak mungkin akan merasa ingin memuji Allah.Tetapi pada tengah malam itu, mereka mulai menyanyi memuji Allah.

Mereka membuka mulut-mulut mereka dan mulai mengeluarkan pujian-pujian pada Tuhan. Betapa hal ini sangat menyenangkan hati Allah. Di sana ada dua hambaNya, menanggung malu, menderita sakit dan putus asa demi NamaNya. Mereka disekap di dalam penjara karena mereka telah melakukan apa yang Allah minta untuk mereka lakukan. Apakah mereka akan mengutuk Allah? Apakah mereka akan menyangkal Dia? Apakah mereka akan mengatakan, "Apakah yang dulu kita pikirkan, sehingga membuat kita masuk ke dalam kemelut ini?" Apakah mereka akan menyalahkan Dia, dengan berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan masuk ke dalam kesulitan ini, andaikan tidak untuk Allah". Tidak! Seribu kali tidak!

Mereka mulai menyanyikan pujian bagi Tuhan. Di tengah malam, ketika segala sesuatu tampak begitu gelap dan mengecewakan.Tiba-tiba dinding dari penjara itu mulai bergetar. Rantai-rantai mereka mulai terlepas.

Saya senang membayangkan bagaimana perasaan Tuhan ketika mendengar pujian mereka di tengah malam, Dia begitu tergetar hatiNya sehingga Dia turun ke penjara itu dan berada bersama mereka dan berteriak "Halleluyah!" begitu kerasnya sehingga tembok-tembok dari penjara itu mulai bergetar!


Kedua orang tersebut sedang mempersembahkan korban pujian. Mereka memuji Allah walaupun keadaan mereka sangat menyedihkan. Mereka seolah-olah memanjat tempat yang paling tinggi dalam keadaan mereka dan berteriak "Bagaimanapun juga kemuliaan bagi Allah!"

Ada banyak orang-orang kudus dari Allah di seluruh dunia ini yang masih juga mempersembahkan korban pujian semacam itu. Dari sel-sel di penjara di banyak tempat di muka bumi, dimana orang-orang kudus Allah menderita karena kesaksiannya tentang Yesus, mereka sedang mempersembahkan korban-korban pujian mereka kepada Allah.



3. Semua itu Hanya dapat Dilakukan Melalui Yesus

"Karena itu oleh Dia, marilah kita mempersembahkan..." Hanya Yesus yang dapat memungkinkan persembahan seperti yang terjadi. Itulah sebabnya Kristus telah dipermuliakan dengan begitu indah saat melakukan hal ini.

Allah Bapa mengetahui sepenuhnya bahwa tak ada seorangpun dapat mempersembahkan korban pujian dan ucapan syukur pada situasi seperti ini kecuali Tuhan menolong dia. Karena itu Allah melihat keajaiban dari PuteraNya di dalam persembahan ini. Kasih karunia dari PuteraNyalah yang telah menyelesaikan mujizat ini.

Mungkin ada seorang yang dahulunya telah mengutuk Allah pada situasi seperti ini; tetapi sekarang, karena kemenangan dari kemurahan Allah dalam kehidupanNya, sekarang dia benar-benar menaikkan ucapan syukur dan pujian pada Allah. Dia berkata, "Saya tak mengerti kenapa semua ini terjadi, Tuhan, tetapi saya memuji Engkau selalu", "Saya tak dapat mengerti kenapa semua ini terjadi atas keluarga saya dan saya; Saya tak dapat memahami alasannya dan membayangkan tujuannya, tetapi saya memuji Engkau selalu".

Setiap kali korban itu dipersembahkan, Yesus Kristus dimuliakan!


4. Hal itu Merupakan Ucapan Syukur Terhadap NamaNya

Allah ingin membawa kita ke suatu tempat dimana kita dapat sungguh-sungguh "mengucapkan syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita" ( Ef 5:20).

Perhatikanlah bahwa pemberian ucapan syukur kepada Allah Bapa ini UNTUK segala sesuatu. Ini sangat sulit sekali. Kita dapat melakukan hal ini hanya kalau kita benar-benar mempercayai akan besarnya kekuasaan Allah, apabila kita benar-benar  "... tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam SEGALA sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rm 8:28).


Arti Dari Pujian Dan Penyembahan

 APAKAH PENYEMBAHAN ITU?

Memuji adalah berbicara yang baik, tentang orang tersebut, mengungkapkan kekaguman padaNya, untuk memberi penghargaan, untuk memberi pujaan, dan memberi ucapan selamat, untuk bertepuk tangan untuk memuji Dia, memberi kata-kata pujian bagiNya dan untuk meninggikanNya.

 

Penyembahan adalah pengungkapan rasa memberikan penghargaan dengan rasa gentar. Memiliki rasa segan dan takut di hadapanNya. Untuk tunduk serendah-rendahnya di depan orang yang kita sembah. Untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya.

Menyembah adalah bentuk yang paling tinggi dari memuji, biasanya kita menaikkan pujian itu dengan kata-kata pujian kemudian masuk ke dalam penyembahan.Kata "worship" diambil dari kata Inggris kuno "WORSHIP" ialah menaikkan nilai, dan memberi tanggapan yang cocok atau yang benar untuk sesuatu kelayakan.

1. Penyembahan adalah Suatu Sikap

Penyembahan adalah suatu sikap yang pertama dari hati. Merupakan suatu keadaan yang penuh kegentaran dari hati manusia kepada Penciptanya.


Dimulai dari yang terdalam, yang sedang merenungkan kebesaran dan kelayakan dari Allah. Merupakan suatu pemujaan dan suatu yang memuliakan Allah. Suatu perasaan yang mendalam dari takut yang disertai keseganan dan penghargaan untuk Sang Mahakuasa.


2. Sesuatu yang Mengalir dengan Limpah

Kedua, pujian dan penyembahan adalah suatu yang MENGALIR DAN MELIMPAH pada pikiran-pikiran dan emosi-emosi. Pujian dan penyembahan itu perlu untuk dipompa, atau dipaksa keluar. Seperti cawan dari Daud, seharusnya hati kita itu "melimpah dengan sukacita" (Mzm 23:5).


3. Suatu yang Dicurahkan

Ketiga, hal itu seperti yang DICURAHKAN dari jiwa kita dalam ungkapan rasa kegentaran, keseganan, pemujaan dan memuliakan Tuhan.



A. MUSIK SANGAT PENTING DI DALAM PENYEMBAHAN

Musik selalu memainkan peranan yang penting di dalam penyembahan kepada Allah. Apabila kita mundur ke belakang pada permulaan Penciptaan:


"Pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai" (Ayb 38:7).


Musik Ibrani pada saat ini adalah suara vokal. Pada saat itu hanya sedikit sekali alat musik di dalam sejarah mereka. Suara-suara dari manusia adalah suara yang paling bisa digunakan dan merupakan alat musik yang paling disukai untuk membuat suara musik.

Secara alkitabiah musik yang pertama kali disebutkan dan dinyanyikan ada di dalam  Kej 31:27, dan ini dihubungkan dengan ungkapan sukacita. Penyembahan di dalam nyanyian yang pertama disebutkan dalam  Kel 15:1, Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian bagi Tuhan. Di dalam ayat  Kel 15:20,21 Miryam dan semua perempuan, memukul rebana serta menari-nari, membalas nyanyian dari Musa.

Penggalian sumur di Beer dirayakan dengan nyanyian (Bil 21:17,18).

Debora dan Barak memperingati kemenangannya dengan nyanyian (Hak 5:1-13).

Para wanita dari Israel merayakan kemenangan Daud atas Goliat dengan nyanyian (1Sam 18:6,7).

Empat ribu Imam-imam memuji Tuhan dengan alat-alat musik (1Taw 23:5) ketika Salomo dilantik menjadi raja atas Israel.


"Tujuh hari lamanya orang Israel...merayakan Roti Tidak Beragi dengan kesukaan yang besar, sedang orang-orang Lewi dan para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan dengan sekuat tenaga" (2Taw 30:21).

"Daud memerintahkan para kepala orang Lewi itu, supaya mereka menyuruh saudara-saudara sepuak mereka, yakni para penyanyi, dengan membawa alat-alat musik seperti gambus, kecapi dan ceracap, untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira" (1Taw 15:16).


Jelas, bahwa musik dan nyanyian adalah kesatuan yang mutlak untuk memuji dan menyembah Tuhan. Ini digambarkan diseluruh Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu. Dan itu juga yang diperlukan hari ini. Adalah hal yang sangat vital, mulia dan positif untuk mengungkapkan pujian pada Allah.


TUGAS-TUGAS YANG PALING PENTING DARI SEBUAH GEREJA


Penyembahan dari jemaat adalah elemen yang sangat penting dari Gereja Perjanjian Baru. Panggilan yang pertama dari orang-orang Kristen Perjanjian Baru adalah untuk menyembah Allah. Tugas-tugas yang paling penting dari sebuah gereja, tersusun menurut pentingnya, adalah:

1. Menyembah Allah

2. Pelayanan Pada Tubuh è membangun orang-orang kudus.

3. Pelayanan Pada Dunia è Penginjilan.


Setiap gereja seharusnya menjadi perkumpulan para penyembah. Perkembangan dari penyembahan, banyak bergantung pada pemimpin penyembahan tersebut.

Setiap gereja Kristen sepatutnya mempunyai program pelayanan musik. Pada dasarnya pelayanan musik menunjukkan sesuatu yang bersifat pelayanan, tetapi dapat juga berarti suatu organisasi yang melayani. Karena itu pelayanan musik dalam gereja merupakan suatu wadah yang dibentuk secara organisasi dengan tujuan melayani segala bidang kehidupan gereja.

Kalau kita meneliti Firman Tuhan dan mengamati kegiatan puji-pujian yang dilakukan oleh orang-orang Kristen, kita akan sadar betapa pentingnya mendasarkan pengucapan syukur dan puji-pujian pada pengenalan yang benar akan Tuhan dan Firman-Nya. Hanya atas dasar pengenalan yang benar akan Tuhan dan Firman-Nya, pengucapan syukur dan pujian akan mengalir keluar sebagai penyembahan dari hati yang murni dan tulus. Di dalam penyembahan seperti itu kita mempersembahkan diri kita dan penghargaan kita kepada Tuhan. Dengan demikian, puji-pujian dan pengucapan syukur dapat menjadi sumber kesukaan. Hal itu akan menguatkan kita dan menyenangkan Tuhan. Akan tetapi tanpa patokan-patokan dan pandangan yang alkitabiah, puji-pujian dapat mengeluarkan  berbagai akibat buruk dan tidak memuliakan Tuhan.

Saat kita menyanyikan pujian dan penyembahan yang meninggikan nama-Nya dan menempatkan Dia sebagai Allah di atas segalanya, maka iman kita pun akan naik selaras dengan pujian yang kita nyanyikan. Dan saat kita menyanyikan lagu-lagu iman tersebut, Allah mendengar dan melihat betapa anak-anak-Nya percaya bahwa Ia dapat melakukan segala sesuatu, dengan demikian allah meresponi dengan memberikan kemenangan bagi kita, bahkan bagi kota kita juga.

Ketika kita berada di hadapan Tuhan, kita mendekat kepadaNya dengan hati yang tulus. Dalam Matius 6:9-13, Allah mengatakan agar kita mendekati takhta-Nya dengan puji-pujian. Oleh karena itu, puji- pujian adalah tanggapan kita terhadap kebenaran dan kebaikan Allah. Kita memusatkan seluruh perhatian kita pada sifat-sifat Allah, siapa Dia (ucapan syukur adalah tanggapan terhadap apa yang sudah dilakukan Allah bagi kita). Ia kekal, Mahakuasa, Mahahadir, dan Mahatahu. Ia adalah EL-SHADDAI (EL=kebenaran, SHADDAI=mahakuasa). Ia adalah JEHOVAH JIREH (Allah menyediakan). Ia adalah JEHOVAH ROPHE (Tuhan yang menyembuhkan). Ada banyak sifat lainnya yang dimiliki Allah. Puji-pujian merupakan suatu penyembahan atas siapa Allah. Ini adalah sesuatu yang terjadi di dalam hati seseorang dan dapat dinyatakan melalui berbagai cara.

Kita harus mengakui bahwa musik rohani beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan sangat pesat. Hal ini ditandai dengan bertambah kayanya jenis musik rohani yang masuk dalam industri musik. Sehingga lagu-lagu rohani itu, baik yang kontemporer maupun yang masuk dalam kategori /praise and worship/ kaya akan berbagai jenis musik. Kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang dinamis dan bergerak dari masa ke masa. Begitulah memang seharusnya. Jadi kalau dalam perkembangan musik rohani pun terdapat perubahan, itu berarti suatu kemajuan yang perlu kita semua sambut dengan gembira.

Tuhan juga nampaknya tidak terlalu berminat mempermasalahkan aliran jenis musik yang mengiringi sebuah puji-pujian. Kita sendiri yang seringkali mengkotak-kotakan aliran sebuah musik lebih baik dan lebih rohani dari aliran musik yang lain. Selera dan minat itu terkadang datangnya alamiah. Ada orang suka musik keroncong, dangdut, pop, rock, jazz, hip hop, R'nB dan sebut saja berbagai aliran musik yang lain. Meskipun kita tidak familiar dengan aliran musik tertentu, kita perlu menerima orang lain dengan pilihan jenis musiknya. Tuhan menyukai keberagaman dan kekayaan berbagai jenis musik. Kalau tidak, tentu Tuhan menciptakan semua manusia dengan rupa yang sama dan bahkan dengan jenis musik yang sama. Dan kehidupan tentunya akan sangat membosankan. Asalkan kita menyanyikannya buat Tuhan dari hati yang penuh kasih dan gairah cinta, jujur, tulus dan dengan sikap hati yang hormat kepada Tuhan, maka Tuhan pasti menikmati pujian, penyembahan dan ucapan syukur dari anak-anak-Nya yang dibuat-Nya dengan jari-jemari tangan-Nya sendiri. Yang dihembuskan dengan nafas yang berasal dari mulut-Nya sendiri (Kejadian 2:7). Intinya sikap hati yang benar. Kalau kita hati kita benar, maka sikap hidup kita juga benar. Sikap hati yang terpancar dari dalam ke luar dan menjadi berkat bagi banyak orang.

            Menyembah Tuhan atau berbakti banyak ragamnya. Cara setiap orang, setiap bangsa, setiap gereja berbakti dapat berbeda-beda. Sebagian orang Kristen merasa bahwa kebaktian haruslah semarak dengan suara atau bunyi-bunyian; bahkan ada yang lebih menyukai suara atau bunyi-bunyian yang keras. Sebagian lagi lebih merasa nyaman kalau berbakti dalam suasana sunyi senyap. Ada juga orang-orang Kristen yang merasa bahwa memuji dan menyembah Tuhan harus disertai dengan gerakan.Di mata Tuhan, perbedaan itu tidak menjadi soal. Setiap orang, setiap bangsa, setiap gereja dapat berbakti kepada Tuhan dengan caranya masing-masing yang unik. Setiap orang Kristen dan setiap kumpulan orang Kristen bebas mengungkapkan perasaan dan gejolak sukacita hatinya kepada Tuhan dengan cara yang disukainya.

            Kerapkali orang bertanya, tidakkah mungkin musik Indonesia (misalnya tembang dan gamelan jawa) dipergunakan sebagai musik gerejani? Gereja K.R. di Yogyakarta telah mulai dengan eksperimen itu dan menggunakan tembang dengan iringan gamelan di dalam kebaktian gereja pada waktu yang disebut "pujian". Eksperimen serupa itu dilakukan pula dalam gereja-gereja Protestan di berbagai daerah. Semoga Tuhan memberkati usaha itu, agar kesenian nasional dapat memberi sumbangannya pula di dalam keseluruhan lagu-lagu rohani.


kirim ke teman | versi cetak

Berita "PELAJARAN (PA)" Lainnya